Pandemi Virus Corona, Rizal Ramli: Stop Proyek Infrastruktur Besar, Alokasikan untuk Tiga Sektor Ini

Ekonom Senior yang juga mantan Menko Perekonomian Dr Rizal Ramli mengatakan bahwa respon pemerintah menyikapi pandemi Virus Corona (Covid-19) sangat lambat dan “ngawur”. Karena itu, kita kehilangan waktu sangat berharga yaitu selama 2,5 bulan.

“Pada awal Corona, respons Indonesia sangat lambat dan terlambat padahal di Wuhan telah terjadi akhir tahun 2019. Kelambatan tersebut terutama karena ‘sungkan’ takut menyinggung Tiongkok. Kedua, pejabat-pejabat RI mengambil sikap ‘self-denial’ (menolak kenyataan). Kita kehilangan 2,5 bulan,” ujar Rizal Ramli dalam acara “Indonesia Lawyers Club” di sebuah televisi swasta, di Jakarta (18/3).

Rizal mengatakan, kita kehilangan banyak waktu yang seharusnya bisa dilakukan untuk scanning, monitoring dan testing potensi penularan Corona. Karena itulah hal ini membuat negara-negara lain seperti Australia, Singapore, WHO tidak percaya pada  statistik kasus Corona di Indonesia.

Mantan Menko Perekonomian itu juga menilai bahwa respons atas kebijakan pertama terhadap Corona tersebut juga sangat ngawur. Respons yang dimaksudkan Rizal Ramli yaitu terkait dengan rencana pemerintah untuk membiayai influencers senilai Rp 72 milyar dan melakukan subsidi airline untuk meningkatkan turisme. “Bener-bener ngawur, seluruh dunia mau kurangi turis asing, ini malah mau tingkatkan. Kualitas orang di sekitar Jokowi payah,” ujar Bang RR, sapaan Rizal Ramli.

Selain itu, katanya, pemerintah juga masih saja mengizinkan pekerja-pekerja asal Tiongkong untuk masuk Indonesia hanya karena kepentingan bisnis pejabat-cum-penguasa. “Sing eling eui, ingat kepentingan nasional!! Nora amat sih,” ujarnya.

Namun terkait masuknya warga China itu, segera dibantah oleh Juru Bicara Presiden Fajroel Rahman. Dia mengatakan bahwa orang China yang datang ke Indonesia itu menggunakan visa berkunjung.

Menurut Rizal, sebagai bangsa kita memang terbiasa dan sangat asyik jika membahas apa yang terjadi hari ini. Tetapi tidak terlatih untuk melihat dan melakukan antisipasi terhadap masa depan, sehingga sering terlambat  jika menghadapi shocks global seperti Corona.

Moratorium Proyek-proyek Infrastruktur Besar

Menurut Rizal, ekonomi Indonesia memang sudah terus anjlok, walau tidak terjadi pandemi Virus Corona. Hal itu, katanya, karena salah kelola, mabok utang dan pengetatan makro. Karena itu, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4% tahun 2020.

Kalau tindakan terhadap Corona itu efektif, maka ekonomi kita hanya akan anjlok minum 1%. Tapi jika tidak effektif, maka ekonomi akan anjlok -2% lagi.

Karena itu, untuk mengurangi dampak Corona terhadap ekonomi, kata Rizal, inilah saatnya untuk menggeser secara radikal dengan melakukan realokasi APBN 2020. “Stop (moratorium) proyek-proyek infrastruktur besar 2020. Harus berani, jangan gengsi. Alokasikan hanya untuk sektor kesehatan, makanan dan daya beli rakyat miskin,” ujarnya.

Indonesia, kata Rizal, bukan negara kaya, sehingga tidak boleh melakukan ‘macro pumping’ atau melakukan ‘buyback’ saham-saham BUMN lain. “Amerika saja yang negara kaya, melakukan pumping macro ratusan milyar dollar lewat FED ternyata tidak effektif, hanya kurang 2 jam index naik, habis itu anjlok,” ujar Rizal mengingatkan.

Karena itu, Rizal mengatakan, agar Indonesia belajar dari negara Korea Selatan yang dinilainya sukses dan efektif dalam menangani pandemi Corona. Negara itu telah belajar dari kasus SARS yang terjadi sebelumnya, dengan melakukan evaluasi terhadap langkah yang efektif dan menyiapkan SOP (Standard Operation Procedures). Karena itu, ketika serangan Corona datang, mereka tinggal menggunakan SOP yang ada tanpa perlu banyak rapat dan koordinasi.

Rizal mengatakan, pemerintah mesti menggunakan momentum pandemi Corona ini untuk menggenjot produksi dalam negeri, seperti pertanian, buah-buahan dan sayur-sayuran. Selain itu membantu kredit, bibit, pupuk sehingga bisa melakukan panen dalam setiap 3 bulan. “Ajak IPB untuk bantu peta kecocokan tanah. Jangan bisanya impor, import doang. Payah amat sih,” ujarnya.

Menyinggung nilai tukar rupiah, menurut Rizal, nilai tukar rupiah makin anjlok bahkan sudah menembus Rp15.200/ US$,  dan index IHSG sudah anjlok dari 6000-an ke-4500-an. “Jangan biarkan mata uang Rupiah dan Index terombang-ambing dengan shocks dan volatilitas yang sangat besar. Ubah flexible exchange menjadi fixed exchange di Rp15.500/$ untuk 1 tahun,” ujarnya.

Rizal mengatakan, jangan membiarkan external dan internal shock dengan volatilitas yang sangat besar merusak ekonomi dan korporasi nasional. Karena itu, dia mengusulkan juga agar pemerintah membekukan perdagangan saham sampai waktu yang belum ditentukan. Karena jika dibuka terus maka nilainya akan semakin anjlok dan hanya membuat kita semakin panik.

“Ini adalah momentum untuk tukar (swap) utang-utang Indonesia yang yield-nya sangat tinggi (7-8%), karya Menkeu ‘Terbalik’ yang sangat merugikan bangsa kita. Kerugian karena bond kemahalan itu 110-120T. Padahal yield bond di Jepang, Eropa negatif. Segera negosiasi swap bond, menghemat 110T!,” pungkasnya.

sumber : https://indonews.id/mobile/artikel/28150/Pandemi-Virus-Corona-Rizal-Ramli-Stop-Proyek-Infrastruktur-Besar-Alokasikan-untuk-Tiga-Sektor-Ini/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *