Cerita Tentang Rizal Ramli

Rizal Ramli adalah sosok inspiratif yang perjalanan hidupnya penuh dinamika. Ia dikenal sebagai Mr. Breakthrough karena terobosan-terobosannya dalam memecahkan masalah bangsa.

Iryan Ali

oleh Iryan Ali Herdiansyah | Dec 07, 2020

Rizal Ramli (RR) merupakan salah satu tokoh nasional yang kiprahnya cukup diperhitungkan dalam sejarah Indonesia. Setidaknya, ia tercatat sebagai aktivis yang memperjuangkan demokrasi di tanah air. Lalu, sebagai ekonom yang kerap mengkritisi praktek menyimpang. Dan, sebagai pejabat atau pemimpin yang menorehkan sejumlah hasil kerja yang baik dan pro-rakyat. Untuk itu, ia diakui secara nasional dan internasional.

Rizal Ramli lahir di Padang Sumatera Barat pada 10 Desember tahun 1954. Ia adalah putra dari pasangan Ramli dan Rawiyah. Ramli dikenal sebagai asisten wedana di daerah Padang. Dan, Rawiyah merupakan seorang guru. Tampaknya, Rizal mewarisi apa yang telah diperankan oleh kedua orang tuanya yakni sebagai pengabdi negara dan sekaligus pendidik.

Berperan di dalam kursi pemerintahan ataupun di luar, Rizal selalu memposisikan diri sebagai orang yang rela mengabdikan dirinya untuk ibu pertiwi. Kemungkinan besar, tekad itulah yang membuat dirinya selalu ingin mengabdikan diri untuk negara, meskipun sesungguhnya ia memiliki pilihan untuk mementingkan dirinya sendiri. Lalu, sebagai pendidik, Rizal adalah jenius yang visioner, tetapi memiliki kemampuan menjelaskan sesuatu yang rumit menjadi sederhana secara baik. Inilah kekuatan utama Rizal saat menjadi pemimpin untuk mentransformasi budaya organisasi agar mencapai visi dan target yang nyata untuk rakyat. Seperti kata David Marquet dalam bukunya Leadership is Language (2020), changing our words changed our world.

Pada usia 6 tahun, Rizal sudah ditinggal sang Ibu. 2 tahun kemudian, ia pun ditinggalkan oleh Bapak. Dengan status sebagai yatim-piatu, Rizal pun memilih untuk tinggal bersama neneknya di daerah Bogor. Di kota hujan ini, ia menimba pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah atas. Di sekolah, ia sangat menyukai 3 pelajaran: matematika, fisika dan bahasa Inggris.

Karena matematika, sebagaimana diceritakan oleh Rizal, ia bisa menguasai ilmu ekonomi. Karena fisika, ia menyukai sosok fisikawan Albert Einstein yang dinilainya sangat rasional dan fokus. Lalu, karena bahasa Inggris, Rizal bisa mengakses pengetahuan dari banyak buku-buku asing. Saat bersekolah, Rizal punya hobi bagus yaitu membaca buku,  komik silat dan berbagai jenis buku. Karena hobi itu, membuat ia menjadi orang berwawasan luas dan memiliki ketajaman analisa.

Rizal Ramli saat masih SMA di Bogor

Hijrah ke ITB

Setamat SMAN 2 Bogor, pada 1973 Rizal melanjutkan studinya ke Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB). Di ITB, Rizal mengasah dirinya menjadi seorang aktivis yang peduli terhadap nasib negara bersama teman-temannya. Saat kuliah, Rizal yang kala itu tidak memiliki uang, terpaksa harus pintar mengelola waktunya antara kuliah, aktivisme dan bekerja. Tampaknya, Rizal bisa mampu menjaga ketiga hal ini secara berimbang.

Di kuliah, ia diakui oleh dosen-dosennya sebagai mahasiswa cemerlang. Dalam dunia aktivisme, ia merupakan salah satu leader yang cukup diperhitungkan di generasinya. Dan, sebagai pekerja, Rizal merupakan penerjemah dan guru bahasa Inggris yang bisa diandalkan.

Pada 1975, karena keikutsertaan dalam kompetisi menulis, Rizal berkesempatan mengikuti short-course di Asian Studies Shopia University Tokyo Jepang. Selama satu setengah bulan di Jepang, ia menyaksikan sebuah negara pasca-perang dunia kedua yang berkembang pesat menjadi raksasa ekonomi dunia. Meskipun negara ini tidak memiliki modal sumber daya alam, tetapi kualitas sumber daya manusianya sangat kompetitif di level global. Pendidikan pun dinilai menjadi modal penting Jepang dalam membangun perekonomian negara tersebut.

Melihat kehebatan Jepang, Rizal Ramli pun tergugah untuk melihat kondisi di tanah air sendiri. Sepulang dari Jepang, Rizal dan sahabatnya mahasiswa ITB Adi (Irzadi Mirwan) memutuskan untuk berkeliling ke beberapa tempat di Indonesia selama sebulan untuk menyaksikan kondisi rakyat secara langsung. Hasilnya, Rizal melihat ketimpangan ekonomi dan banyaknya anak Indonesia yang tidak mampu sekolah. Di Indonesia, belum ada peraturan tentang usia wajib belajar. Di Jepang, mereka memiliki ketentuan wajib belajar sejak restorasi Meiji 1868.

Aktivis Mahasiswa

Atas dasar itu, Rizal bersama teman-temannya membuat kampanye gerakan anti-kebodohan. Sebagai Wakil Dewan Mahasiswa ITB (DM ITB), Rizal aktif menggalang solidaritas dari lingkungan internal ITB itu sendiri ataupun dengan kampus2 lain. Sang penyair ternama saat itu, WS Rendra pun membuat sajaknya yang terkenal yaitu Sebatang Lisong, dibacakan di lapangan basket ITB. Substansi tentang sajak ini sendiri menyindir tentang ketimpangan ekonomi, pembangunan yang tidak berorientasi manusia, nasib 8 juta anak-anak yang tidak mendapatkan akses pendidikan dan kelirunya pola Pendidikan nasional saat itu yang berorientasi pada bekerja semata.

Gerakan ini pun kian meluas hingga puncaknya tahun 1978, banyak lembaga dewan mahasiswa di kampus lain menggelar demonstrasi kepada Pemerintahan Soeharto. DM ITB menginisiasi menyampaikan kritik kepada rezim Orde Baru itu dalam Buku Putih Perjuangan Mahasiswa Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh DR. Adnan Buyung Nasution, buku ini disusun oleh Rizal Ramli, Abdul Rochim, Irzadi Mirwan dan Yosef Manurung yang kala itu telah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep demokrasi dan pembangunan ekonomi.

Karena gerakan demonstrasi  masif dan penyampaian kritik terbuka Januari 1978 oleh DM ITB, Unpad, Parahyangan, Unisba, IKP, ITT, ITN dan Dewan2 Mahasiswa di Jakarta, Medan, Jokya, Surabaya dan Makassar kepada Pemerintah, ratusan mahasiswa ditangkap dan puluhan mahasiswa diadili. Sebagai pengacara Ketua LBH, Adnan Buyung Nasution mencatat terdapat 8 kampus yang para aktivisnya ditangkap untuk dipenjara. Salah satunya ialah Rizal Ramli. Ia dkk dipenjara di lapas polisi militer jakan Jawa Bandung selama 3 bulan, dan 1 satu enam bulan di Lapas Sukamiskin, Bandung

Selama di penjara, selain mengisi waktu dengan bermain catur, Rizal mengaku menjadi lebih banyak membaca tentang buku-buku ekonomi politik (political economy). Kecerdasannya dalam matematika membuatnya lebih mudah untuk memahami berbagai metode perhitungan atau simulasi di dalam teori ekonomi. Untuk itu, tidak mengherankan selepas dari penjara, Rizal pun memilih untuk mengambil studi ekonomi di kampus luar negeri.

Oleh karena dikenal kecerdasannya, menurut Bang Buyung dalam otobiografinya, Rizal yang ingin kuliah ke luar negeri untuk studi ekonomi, meminta dirinya untuk mencarikan rekomendasi beasiswa dan diperbolehkan untuk sekolah lagi tanpa harus menunggu kasasi dari Mahkamah Agung. Dengan kebaikan Bang Buyung dan Direktur Jenderal Imigrasi Mayor Jenderal Nichlany Soedardjo, Rizal Ramli mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan sekolah lagi di luar negeri tanpa harus menamatkan kuliahnya di ITB. Ia pun mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kuliah di Boston University selama 2 tahun, 1980-1982.

Terbang ke Paman Sam

Tahun 1984, setelah kelahiran anak keduanya Dipo Satria, ia pun berangkat melanjutkan studi ke Boston University. Sang istri, Ir. Herawati  dan anak-anak kemudian menyusul Rizal ke negeri Paman Sam. Hera kemudian bekerja di Biro Arsitek di Boston, dan kemudian  menempuh pendidikan master di Harvard Graduate School of Design. Rizal menamatkan studinya di Boston University hingga tingkat doktoral, dan lulus pada 1990.

Pada 1991, Rizal pulang ke tanah air. Tak lama, Rizal bersama teman-temannya yang juga alumni ITB dan UGM — yang menempuh Pendidikan lanjutan di bidang ekonomi—memutuskan untuk mendirikan lembaga think thank ekonomi Indonesia bernama ECONIT Advisory Group. Di ECONIT ini, Rizal kerap merilis hasil studi dan prediksi tentang ekonomi makro dan sektoral yang dijadikan referensi kalangan industri, keuangan dan institusi Pemerintah dalam merumuskan strategi dan kebijakan. Dikenal sebagai ekonom andal, Rizal pun dipercaya menjadi penasihat ekonomi fraksi ABRI (1992-1997).

Kejelian analisa dan keberanian mengungkapkan hasil temuannya membuat Rizal pun menjadi salah satu ekonom yang sangat diperhitungkan pada saat itu. Salah satunya, ia berani mengeluarkan forecast ekonomi yang berbeda dengan lembaga think thank lain atau lembaga keuangan internasional pada 1996. Rizal dan tim di ECONIT meramalkan akan terjadinya krisis ekonomi pada 1997 akibat trends makro ekonomi yang tidak bagus.

Hasil kajian analisa forecast-nya pun terbukti. Akhir tahun 1997, Indonesia diguncang krisis ekonomi, sehingga membuat kondisi politik di tanah air mulai goyah. Demonstrasi besar-besaran terjadi di berbagai kota. Akibatnya, Mei 1998, Soeharto yang baru saja memenangkan Pemilu 1997 dan baru dilantik lagi menjadi Presiden 11 Maret 1998, harus mengundurkan diri dan digantikan oleh sang wakil. Krisis ekonomi yang berimplikasi pada banyak aspek, akhirnya mau tidak mau mendorong angin perubahan pada kebijakan, pemimpin yang berkuasa, harapan rakyat, dan lainnya.

Sentuhan RR dalam Pemulihan Ekonomi

Rizal Ramli yang dikenal sebagai ekonom dan aktivis, diminta oleh Presiden Habibie untuk menjadi menteri. Rizal menolak tawaran itu karena Habibie dinilai sebagai bagian dari Orde Baru. Setelah Gus Dur terpilih sebagai presiden, tawaran jabatan pun datang lagi menghampiri Rizal. Sang kyai mula2 menawarkan jabatan sebagai Kepala BPK, lalu Dubes di Amerika Serikat, tapi ditolaknya baik-baik.

Tak berhenti di situ, Rizal pun ditawarkan Kembali untuk menerima jabatan sebagai Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) menggantikan Pjs. Menteri Perindustrian dan Perdagangan Jusuf Kalla. Agak setengah memaksa, Rizal pun menerima permintaan Gus Dur dengan catatan Rizal hanya bersedia menjadi Ketua Bulog  selama setahun.

Rizal sukses melakukan transformasi di Bulog hingga memberikan keuntungan Bulog  meningkat Rp5 triliun dan menguntungkan petani karena gabahnya dibeli dengan standard harga lebih  tinggi, serta Bulog tidak  diizinkannya untuk impor beras selama ia memimpin.

Kesuksesan ini pun membuat Gus Dur memberi kepercayaan lebih. Mula-mula, saat menjadi Kabulog, Rizal diminta juga untuk membereskan masalah keuangan di IPTN. Lembaga kesayangan Habibie ini pun melakukan transformasi bisnis dengan mengganti jajaran top management yang tahu seluk-beluk industri pesawat, mengubah namanya menjadi PT Dirgantara Indonesia dan refocusing core business dari produsen pesawat terbang ke pemasok spare parts dan components. PT DI pun sukses keluar dari permasalahan keuangan dan bahkan omsetnya naik dua kali lipat.

Hasil kerja yang bagus dan cepat ini membuat Rizal didorong menempati posisi sebagai Menteri Koordinator Perekonomian dan Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KSKK). Deretan permasalahan utang  PLN yg nyaris bankrut (modal minus Rp 9Trilliun), Garuda Indonesia, Krisis Bank Indonesia Internasional (9x lebih besar dari Bank Century – diselesaikan tanpa suntikan uang negara) , restrukturisasi sektor properti dan UKM, penyelesaian cross-ownership di Telkom-Indosat (Negara dapat tambahan penerimaan pajak 5Trilliun) dan lainnya, semua diselesaikannya dengan inovatif dan berhasil. Dengan kelihaiannya menegosiasi lembaga keuangan internasional IMF dan Bank Dunia, serta mendorong 10 program unggulannya, Rizal pun mampu membuat perekonomian tumbuh dari -3% menjadi 4,9%. Ekonomi dengan cepat pulih, gaji PNS, ABRI dan prnsuijan naik 125% dalam 21 bulan, daya beli meningkat, ekspor naik 2 kali lipat, utang berkurang, kemiskinan berkurang 10 juta dalam 2 tahun, dan Gini Index turun terendah dalam sejarah Indonesia modern.

Di tengah banyaknya menteri yang dipecat Gus Dur karena kinerjanya tidak bagus dan adanya indikasi KKN, Rizal yang punya cerita sederet sukses besar dan bersih dari KKN, membuat posisinya pun aman. Bahkan, menjadi salah satu menteri andalan Gus Dur. Karena bisa diandalkan, Gus Dur pun menggesernya ke posisi Menteri Keuangan. Rizal mendapatkan mandat untuk membereskan departemen keuangan.

Sayangnya, di posisi ini, Rizal hanya bertahan selama dua bulan saja, seiring dengan jatuhnya Pemerintahan Gus Dur, dan digantikan oleh Wakil Presiden Megawati. Selama kepemimpinan Megawati, Rizal tidak mendapatkan tempat.

RR Dijegal JK?

Rizal Ramli mulai diperhitungkan kembali mendapatkan tempat saat Susilo Bambang Yudhoyono terpilih menjadi Presiden RI pada 2004. Rizal diminta SBY untuk menjadi Menko Perekonomian. Alasan SBY, “Supaya saya bisa tidur nyenyak”.  Dalam sebuah wawancara dengan Karni Ilyas, Rizal mengaku bahwa dirinya telah diblok oleh Jusuf Kalla karena JK merasa terganggu berbagai kepentingan bisnisnya. Pada saat pemerintahan SBY jilid I (2004-2009), Rizal diganjal untuk menjadi Menko Perekonomian oleh Jusuf Kalla. Padahal, seperti keputusan dirinya menjadi Menko telah ditandatangani oleh Presiden SBY di pertemuan SBY dan RR di Cikead, seminggu sebelum pengumuman kabinet. Pertemuan itu diberitakan banyak TV dan media. Sayangnya, saat akan diumumkan, nama Rizal tidak dimasukkan. Ia sempat ditawari posisi sebagai menteri perindustrian. Tetapi, Rizal menolak tawaran tersebut.

Akhirnya, Rizal pun memilih berada di luar kekuasaan.

Pada 2006, ia sempat ditunjuk menjadi Komisaris Utama Semen Gresik. Meskipun posisinya sebagai Komut, ia punya andil dalam meningkatkan revenue dan profit perusahaan. Selama dua tahun, Semen Gresik bertransformasi menjadi salah satu perusahaan terbaik.  Keuntungan Semen Gresik dari dari Rp 800 milyar menjadi Rp3.2 Trilliun dalam 2 tahun. Sayangnya, ia dicopot menjadi Komut dikaitkan dengan suara kritisnya terhadap rezim SBY. Bahkan, pada 2008, ia sempat akan diseret ke pengadilan karena dinilai menjadi biang kerusuhan demonstrasi anti-kenaikan BBM. Karena dukungan yang besar terhadap Rizal, ia pun tidak jadi dipenjara.

Pada 9 Juni 2006, Hera, sang istri meninggal dunia karena kanker yang diidapnya. Hera  adalah Arsitektur yang suka dengan musik klasik dan gemar kegiatan sosial mengajar anak-anak. Rizal dan Hera isama-sama suka musik klasik. Sempat menduda selama dua tahun, Rizal menikah kembali dengan orang Bangka keturunan Tionghoa bernama Marijani (Liu Siaw Fung). Marijani sempat mendampingi Rizal ketika memimpin Komite Bangkit Indonesia. Sayangnya, pada 2011, Marijani meninggal dunia karena kanker.

Pada 2009, Rizal mencalonkan diri sebagai calon independen. Harapannya untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik selalu kandas karena kurangnya modal finansial (karena partai perlu upeti untuk mendukung calon) serta adanya ketentuan presidential treshold 20%. Padahal, Rizal adalah sosok yang memiliki visi, integritas dan kompetensi  untuk menjadi presiden.

Rajawali Kepret ala Rizal Ramli

Di masa Pemerintahan Jokowi periode I (2014-2019), Rizal sempat menduduki posisi sebagai Menko Kemamritiman dan Sumber Daya. Sehari setelah menjabat, Rizal langsung menggebrak dengan jurus Rajawali Kepretnya terhadap beberapa kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah: rencana pembangunan pembangkit listrik  35 ribu MW, pembelian pesawat Airbus A350 jarak jauh (long haul), pembangunan jalur pipa dan storage BBM di Jawa oleh Pertamina, penurunan waktu dwelling time di pelabuhan, blok Masela, dan lainnya. Ia tak sungkan mengkritik kebijakan yang ada di dalam kabinet. Dengan kata lain, Rizal mengungkapkan di luar dan membuat semua orang tahu. Implikasinya, sebagian kolega Rizal Ramli di kabinet yang memiliki kepentingan bisnis (KKN) merasa panas kupingnya.

Ternyata, jurus Rajawali Kepret ini ampuh. Banyak masyarakat luas, pendukung maupun lawan Jokowi menyukai manuver Rizal Ramli. Dengan jurusnya, masyarakat menjadi tahu apa yang sedang dibicarakan di dalam rapat kabinet, sehingga rakyat pun bisa mengomentari. Tak jarang, Rizal pun harus menghadapi tantangan secara langsung dari pihak yang dikritiknya. Tetapi, Rizal tak gentar untuk meladeni debat terbuka di depan umum. Menurutnya, akan sangat bagus bila public policy didiskusikan secara terbuka.

Osmar Tanjung, sekretaris jenderal Seknas Jokowi saat itu, mengomentarinya pada media:

“Khalayak melihat proses kegaduhan adalah proses pembelajaran berdemokrasi, uncovered story yang begitu terang benderang, cukup transparan terhadap beberapa masalah kekinian, memposisikan negara tidak boleh diatur oleh modal yang ini sejalan dengan program politik Jokowi-JK: Nawacita.”

Namun, Rizal dicopot menjadi Menko Kemaritiman dan Sumber Daya pada bulan Juli 2016. Ia dipanggil pada saat menjadi narasumber di Indonesia Lawyers Club dengan topik “Rizal Ramli Vs Ahok: Berhakkah Menko Stop Reklamasi?” pada 27 Juli 2016. Seusai memberikan paparan, Rizal terlihat pergi ke luar. Dan, itu adalah momen pemanggilan dirinya ke Istana Negara untuk menghadap Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, didampangi Sekneg Pratikno dan Sekab Pramono Anung.

Untuk memudahkan untuk melihat sepak terjang Rizal Ramli, penulis menyusun milestone ular tangga perjalanan hidupnya serta kontribusinya selama menjadi pemimpin, seperti terlihat di bawah ini:

Sumber :

https://www.iryanali.com/2020/12/07/rizal-ramli/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *